Kita sering mendengar sebuah sebuah peribahasa, kalo kasih ibu kepada anaknya sepanjang jalan,lalu bagaimana kasih sayang seorang anak terhadap ibunya? Ada temen saya yang nyeletuk sepanjang galah kali ya? Heh ngawur, rasanya terlalu mendramalisir,masak iya kalau panjang jalan hanya di bandingin dengan galah,nggak sebanding banget kan?Terlalu durhakakah kita, Perasaan kita nggak jahat-jahat banget sama mereka (ye, mang kita malin kundang) Gini-gini kita kan juga sering membantu perkerjaan meraka,menuruti perintahnya (walau kadang-kadang masih suka mbandel) ,its okelah. Untuk saat ini kita bisa membela diri,tapi bagaimana kelak,ketika kita di sibukan oleh istri kita,anak-anak kita yang rewel,belum lagi urusan rumah tangga kita nanti, Masihkah kita sempat memperhatikan mereka,melayani mereka dengan maksimal seperti yang di ajarkan islam kepada umatnya bahkan berkata uff aja nggak di pebolehkan, lalu adakah yang boleh keberatan dengan peribahasa di atas? Saya pernah baca sebuah kisah tentang sebuah keluarga yang lupa dengan jasa ibunya,berikut kisahnya.
Suatu ketika, ada seorang nenek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si nenek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak. Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. "Kita harus lakukan sesuatu, " ujar sang suami. "Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini." Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang nenek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si nenek. Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si nenek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam. Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. "Kamu sedang membuat apa?". Anaknya menjawab, "Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat nenek biasa makan." Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya. Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, air matapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si nenek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.
Kisah di atas bisa sedikit menggambarkan bagaimana kadar kasih sayang kita kepada orangtua kita,saat masih kecil atas mungkin saja kita banyak kesempatan untuk berbuat baik kepada mereka tapi di saat kita punya keluarga sendiri,dengan sendirinya kasih sayang itu akan terbagi,sehingga seandainya kasih sayang itu bisa di ukur,sebuah galahpun di rasa terlalu panjang.

0 komentar:
Posting Komentar